laporan praktikum kimia organik ekstraksi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teh
adalah minuman yang dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Teh
memiliki kandungan kafein didalamnya. Kafein memiliki efek positif dan
negatif. Efek positifnya adalah dapat bertindak sebagai antioksidan
dalam tubuh. Akan tetapi, jika kandungan kafein dalam teh terlalu
banyak, kafein dapat bertindak sebagai racun dalam tubuh. Sebab itu,
kadar kafein perlu diketahui dengan pasti di dalam teh. Penentuan kadar
kafein ini dapat menggunakan cara ekstraksi.
Ekstraksi
adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan membagi
sebuah zat terlarut diantara dua pelarut. Hal ini dilakukan untuk
mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut lain.
Ekstraksi sangat berperan penting dalam bidang industri untuk penentuan kadar kafein dalam produksi teh kering atau pun bahan lain yang mengandung kafein.
1.2 Tujuan
Setelah melakukan percobaan mahasiswa dapat:
· Menjelaskan konsep dan jenis ekstraksi
· Menjelaskan tujuan penggaraman dan pengeringan ekstrak
BAB II
DASAR TEORI
Kelarutan Senyawa dalam suau pelarut dinyatakan sebagai jumlah gram zat terlarut dalam 100 mL pelarut pada 25 0C.
Senyawa akan larut dalam suatu pelarut jika kekuatan atraktif antara
kedua molekul (zat terlarut dan pelarut) adalah sesuai atau disukai.
Yang polar larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya. Jadi sifat
kepolaran senyawa non polar terjadi karena perbedaan
keelektronegatifannya kecil atau sama, misalnya C-C, C-H ; sedangkan
senyawa polar terdapat perbedaan keelektronegatifan besar seperti pada
C-O, C-N, C-X. Demikian pula diantara molekul yang mengandung O-H, atau
N-H akan terjadi ikatan hidrogen (antar molekul) sangat menentukan
kelarutan
Ekstraksi
adalah metoda pemisahan yang melibatkan proses pemindahan satu atau
lebih senyawa dari satu fasa ke fasa lain dan didasarkan kepada prinsip
kelarutan. Jika kedua fasa tersebut adalah zat cair yang tidak saling
bercampur, disebut ekstraksi cair-cair. Dalam sistem ini satu atau lebih
senyawa berpartisipasi di antara kedua pelarut, yaitu sebagian kecil
senyawa akan berada dalam salah satu pelarut dan sebagian besar lainnya
akan berada dalam pelarut yang kedua. Partisi adalah keadaan
kesetimbangan keberhasilan pemisahan sangat tergantung pada perbedaan
kelarutan senyawa tersebut dalam kedua pelarut. Secara umum prinsip
pemisahannya adalah senyawa tersebut kurang larut dalam pelarut yang
satu dan sangat larut di pelarut lainnya. Air banyak dipakai dalam
sistem ekstraksi cair-cair senyawa organik karena banyak senyawa organik
yang bersifat ion atau sangat polar yang cukup larut dalam air Pelarut
lainnya adalah pelarut organik yang tidak bercampur dengan air (yaitu
bukan dari golongan alkohol dan aseton). Dalam sistem ekstraksi ini akan
dihasilkan dua fasa yaitu fasa air (aqueos) dan fasa organik. Selain
syarat kelarutan yang harus berbeda jauh perbedaannya di kedua pelarut
tersebut, juga syarat lain adalah pelarut organik harus mempunyai titik
didih jauh lebih rendah dari senyawa terekstraksi (biasanya dibawah 100 0C), tidak mahal dan tidak bersifat racun
Dasar
metoda ekstraksi cair-cair adalah distribusi senyawa diantara dua fasa
cair yang berada dalam keadaan kesetimbangan. Perbandingan konsentrasi
di kedua fasa cair disebut koefisien distribusi (K) yaitu K=Ca/Cb.
Perpindahan senyawa terlarut dari satu fasa ke fasa lain akhirnya
mencapai keadaan setimbang (pada suhu tertentu). Maka K bisa ditentukan.
Efisiensi proses ekstraksi ini tergantung pada jumlah ekstraksi
dilakukan, bukan volume pelarut. Hal ini dinyatakan dengan perhitungan
konsentrasi zat terlarut :
Cn = Co [KV1/(KV1+V2)]n
Dimana Co adalah konsentrasi semula, V1 volume semula, K koefisien distribusi dan V2 volume
pengekstrak. Dengan persamaan ini kelihatan akan lebih efektif n kali
ekstraksi dari pada satu kali ekstraksi. Lebih baik dilakukan beberapa
kali ekstraksi dari pada satu kali dengan jumlah yang sama
Tabel 1. Beberapa pelarut yang biasa digunakan ekstraksi
Jenis Pelarut
|
Titik Didih
0 C
|
Kerapatan
g/mL
|
Sifat dan penggunaanya
|
Air
|
100
|
1,000
|
Sangat luas, polar, ionik
|
Dietil Eter
|
35
|
0,714
|
Sangat luas, mudah terbakar
|
Heksan
|
61
|
0,659
|
Hidrokarbon/nonpolar, terbakar
|
Benzen
|
80
|
0,879
|
Aromatik, mudah terbakar racun
|
Toluen
|
111
|
0,876
|
Seperti benzen
|
Pentan
|
36
|
0,626
|
Non polar, mudah terbakar
|
Metanol
|
65
|
Mudah terbakar racun
| |
Kloroform
|
61
|
1,492
|
Sangat polar
|
Metilen Klorida
|
41
|
1,335
|
Polar, beracun
|
Karbontetraklorida
|
77
|
1,594
|
Hidrokarbon, non polar, racun
|
Ekstraksi
asam basa. Adalah termasuk jenis ekstraksi yang didasarkan pada sifat
asam dan basa senyawa organik, disamping kelarutannya. Senyawa asam atau
basa organik direaksikan dengan basa atau asam sehingga membentuk
garamnya. Garam ini tidak larut dalam pelarut organik (non polar) tetapi
larut baik dalam air. Ekstraksi basa dikembangkan untuk isolasi kovalen
asam organik dari campurannya, juga kovalen basa organik (alkaloid)
yang diekstraksi dengan asam mineral dengan cara titrasi
Ekstraksi
padat-cair. Adalah juga termasuk cara ekstraksi yang lazim disebut
ekstraksi pelarut, dimana zat yang akan diekstraksi )biasanya zat padat)
terdapat dalam fasa padat. Cara ini banyak digunakan dalam isolasi
senyawa organik (padat) dari bahan alam. Efesiensi ekstraksi padat cair
ini ditentukan oleh besarnya ukuran partikel zat padat yang mengandung
zat organik dan banyaknya kontak dengan pelarut. Maka dari itu dalam
praktek isolasi bahan alam harus menggunakan peralatan ekstraksi kontinu
yang biasa disebut soxhlet
Penyaringan
dan corong pisah. Corong pisah adalah alat untuk melakukan ekstraksi
cair-cair yaitu proses pengocokan sistem dua pelarut, agar proses
partisi bisa berjalan lebih cepat. Setelah dibiarkan beberapa lama
sampai kedua pelarut terpisah dengan baik, baru dilakukan pemisahan
salah satu pelarut. Identifikasi pelarut bagian atas dan bawah,
ditentukan atas dasar perbedaan kerapatannya. Kerapatan yang besar ada
di bagian bawah. Proses penyaringan merupakan bagian penting dalam
pemisahan zat padat dari larutan atau zat cair. Dilakukan dengan
menggunakan kertas saring yang dipasang dalam corong. Ada dua macam cara
penyaringan yaitu penyaringan gaya berat (biasa) dan penyaringan dengan
pengisapan (suction). Penyaringan biasa digunakan untuk mengumpulkan
cairan dari zat padat yang tak larut. Kertas saring yang digunakan
adalah jenis lipat (fluted). Penyaringan cara ini sering dilakukan pada
kondisi panas (penyaringan panas), misalnya untuk memisahkan karbon
aktif setelah proses penghilangan warna larutan (decolorizing). Cara
penyaringan lain adalah penyaringan dengan pengisapan (suction), yaitu
cara penyaringan yang memerlukan kecepatan dan kuat dan digunakan untuk
memisahkan padatan kristal dari cairannya dalam rektalisasi. Pengisapan
dilakukan dengan menggunakan aspirator-air atau pompa vakum dengan
desain khusus. Dan corongnya yang digunakan adalah corong buchner atau
corong hirsch
Pengeringan
ekstrak. Ekstraksi yang melibatkan air sebagai pelarut umumnya air akan
sedikit terlarut dalam sejumlah pelarut organik seperti kloroform,
benzen dan eter. A ir ini harus dikeluarkan sebelum dilakuakn destilasi
pelarut. Ada dua tahap pengeringan, pertama ekstrak ditambahkan larutan
jenuh natrium klorida (garam dapur) sejumlah volume yang sama. Garam
akan menaikkan polaritas air berarti menurunkan kelarutannya dalam
pelarut organik. Kemudian tambahkan zat pengering garam anorganik
anhidrat yang betul betul kering atau baru. Zat pengering ini adalah
anhidrat dari garam berair kristal yang kapasitasnya sebanding dengan
jumlah air kristalnya. Yang umum digunakan adalah Magnesium Sulfat,
Natrium Sulfat. Magnesium sulfat adalah pengering paling efektif akan
tetapi sangat mahal. Kalsium klorida lebih murah akan tetapi sering
membentuk komplek dengan beberapa senyawa organik yang mengandung
oksigen (misalnya etanol).
BAB III
METOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat yang Digunakan
No.
|
Alat
|
Jumlah
|
1.
|
Labu Erlenmeyer
|
1 buah
|
2.
|
Pembakar spirtus
|
1 buah
|
3.
|
Statif
|
1 buah
|
4.
|
Klem
|
1 buah
|
5.
|
Termometer
|
1 buah
|
6.
|
Timbangan
|
1 buah
|
7.
|
Kaca arloji
|
1 buah
|
8.
|
Spatula
|
1 buah
|
9.
|
Botol semprot
|
1 buah
|
10.
|
Korek api
|
1 buah
|
11.
|
Corong pisah
|
1 buah
|
12.
|
Kertas saring
|
1 buah
|
13.
|
Stopwach
|
1 buah
|
14.
|
Gelas ukur
|
1 buah
|
15.
|
Kaki tiga
|
1 buah
|
16.
|
Kasa
|
1 buah
|
17
|
Gelas kimia
|
1 buah
|
18
|
Corong
|
1 buah
|
3.2 Bahan yang Digunakan
No.
|
Bahan
|
Jumlah
|
1.
|
Aquades
|
Secukupnya
|
2.
|
Teh
|
25 gram
|
3
|
Diklorometana
|
30 ml
|
4
|
Natrium karbonat
|
20 gram
|
3.4 Gambar Alat
Spirtus
![]() | Klem |
Timbangan
![]() | Statip |
Corong pisah |
Spatula
![]() |
Botol semprot
![]() | Labu Erlenmeyer |
Gelas ukur | Gelas kimia |
Stpwach | Kaca arloji |
Kertas saring | Kaki tiga |
Kasa | |
Korek api
![]() | Corong |
3.3 Prosedur Percobaan
Masukan
25 gram daun the kering(atau 10 kantong the celup) dan 20 gram natrium
karbonat ke dalam labu erlenmeyer 250 mL,tambahkan 225 mL air
mendidih.Biarkan campuran selama 7 menit,kemudian dekantasi campuran
reaksi ke dalam labu Erlenmeyer lain.ke dalam daun teh/kantong the
tambahkan 50 mL air panas lalu segera dekantasi ekstrak the dan
gabungkan denga ekstrak the sebelumnya.untuk mengekstrak sisa kafein
yang mungkin ada,didihkan air berisi daun the/kantong the selama 20
menit,lalu dekantasi ekstraknya.dinginkan ekstrak the hingga suhu
kamar,lalu lakukan ekstraksi di dalam corong pisah dengan penambahan 30
mL diklorometana.kocok corong pisah secara perlahan selama 5 menit
(supaya tidak terbentuk emulsi),sambil membuka keran corong pisah untuk
mengeluarkan tekanan udara/gas dari dalam corong pisah.Ulangi ekstraksi
dengan menambahkan 30 mL diklorometana ke dalam corong pisah.
Gabungkan
ekstrak diklorometana dan semua fraksi yang berwujud emulsi di dalam
labu Erlenmeyer 125 mL,lalu tambahkan kalsium klorida anhidrat ke dalam
gabungan ekstrak dan emulsi,smbil di aduk/di goyang selama 10
menit.secara hati-hati,dekantasi ekstrak diklorometana jangan sampai
gumpalan kalsium klorida anhidrat ikut terbawa.atau anda dapat menyaring
ekstrak diklorometana menggunakan penyaringan biasa.bilaslah Erlenmeyer
dan kertas saring dengan 5 mL diklorometana.gabungkan filtrate dan
lakukan distilasi menggunakan penangas air untuk menguapkan
diklorometana(hati-hati dalam pemakaian api! jangan lupa menggunakan
batu didih)putih kehijauan yang diduga adalah kafein).
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Percobaan
No
|
Zat Uji
|
Perlakuan
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
25 gram daun teh kering
|
Ditambah Natrium Karbonat dan air panas
|
Larutan
teh dengan tiga spesi. Dasar Erlenmeyer terkumpul bubuk teh berukuran
besar, tengah-tengah larutan, dan di bagian paling atas terdapat
bubuk teh berukuran lebih kecil.
|
2
|
Campuran Awal
|
Disaring
|
Terdapat larutan hitam pekat.
|
3
|
Larutan Hitam
|
Dimasukan kedalam corong pisah , ditambah dikloro metana dan dikocok
|
Terbentuk gas yang dibuang saat pengocokan dilakukan.
|
4
|
Larutan dalam corong pisah
|
Didiamkan min. 20 menit
|
Terbentuk
tiga spesi cairan terpisah. Didasar terdapat filtrat berwarna hijau
bening, di tengah-tengah berwarna coklat keruh, dan di atas berwarna
hitam. Filtrat di pisahkan keluar.
|
5
|
Filtrat
|
Dipanaskan dan dikerik
|
Berat endapan kuning serbuk ditimbang . hasil ednapan 0,02 gram.
|
4.2 Analisis dan Pembahasan
Dari percobaan diatas, terdapat beberapa data yang dapat dianalisi dengan kajian teoritis, diantaranya :
1. Mengapa saat larutan the ditambah dengan dikloro metana (CH2Cl2) dan dikocok terasa berat di ujung corong pemisah ?
Sebenarnya gas terbentuk ialah gas CO2 yang berasal salah satunya dari Na2CO3.
Gas ini terbentuk dan bila tidak di keluarkan dapat merusak corong
pisah. Pada saat pengocokan harus secara berkala dikeluarkan.
2. Pada saat didiamkan hasil kocokan selama kurang lebih 20 menit terbentuk tiga spesi ?
Tiga
spesi yang dimaksud ialah spesi antara kafein, emulsi, dan pelarut air
yang berisi zat-zat lain yang tidak diharapkan saar ekstraksi. Kafein
terdapat di dasar corong pemisah, emulsi berada di tengah, dan pelarut
air di bagian atas.
3. Pada bagian tengah pada corong pisah terdapat emulsi, perkiraan itu adalah apa ?
Kemungkinan
itu ialah lemak atau garam tannin. Pembentukan garam tannin untuk
tujuan ini menimbulkan efek samping. Tannin berfungsi sebagai surfaktan
anion yang menyebabkan pembentukan emulsi dengan air. Pembentukan emulsi
ini dapat dicegah dengan cara pengocokan corong pisah yang tidak
terlalu kuat (perlahan saja). Perlu dicatat, karena reaksinya
menghasilkan gas, agar corong tidak meledak, maka selama pengocokan,
keran corong pisah harus dibuka sewaktu-waktu. Dengan ini, CO2 yang berasal dari Na2CO3 dapat keluar dan terbentuk kesetimbangan tekanan didalam dan diluar corong.
4. Apa fungsi dari diklorometana pada saat praktikum ?
Diklorometana
digunakan untuk melarutkan kafein karena sebagai pelarut senyawa
organik, diklorometana melarutkan kafein lebih baik (140 mg/mL) dari
pada dalam air (22 mg/mL). Selain itu, tannin dalam bentuk garam juga
tidak dapat larut dalam diklorometana sehingga kafein yang dihasilkan
jauh lebih murni. Setelah corong pisah diguncang dan didiamkan, akan
terbentuk dua fasa utama, yaitu fasa diklorometana dan fasa air. Karena
kafein larut lebih baik dalam diklorometana dan tannin tidak larut di
dalmnya, maka fasa yang diambil adalah fasa diklorometana. Keberadaan
emulsi, seperti yang telah disebutkan, merupakan efek samping
penggaraman tannin dan pengocokan yang terlalu kuat.
BAB V
KESIMPULAN
Dari data percobaan dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
1. Ekstarksi
kafein dapat dilakukan dengan mengekstraksi kandungan kafein dalam the
dengan prosedur ekstraksi sederhana seperti dalam percobaan.
2. Kafein
merupakan senyawa organic yang tentu larut dalam pelarut organic,
dengan penambahan diklorometana sebagai pelarut organic datam menarik
kafein dalam larutan agar terpisah dengan pelarut air dan zat-zat yang
tidak diharapkan.
3. Tannin harus dihilangkan atau digaramkan dalam larutan agar tidak mengganggu kafein dalam proses ekstraksi.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden. 2009. Kimia Organik I. Bandung : Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
http://id.wikipedia.org/wiki/Kafeina
sumber klik disini

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar